Dolar AS kembali melemah tajam karena meningkatnya ketegangan perang Ukraina - Rusia serta ketegangan perang dagang As - China dan spekulasi penurunan suku bunga yang agresif semakin membebani dolar. Pasar masih mempertimbangkan pernyataan dari pejabat Federal Reserve dalam pekan ini. Tiongkok menuduh AS memicu kepanikan atas pengendalian logam tanah jarangnya, menolak seruan Gedung Putih untuk mencabut pembatasan tersebut. Gubernur Federal Reserve Christopher Waller mengatakan ia setuju dengan pemotongan suku bunga lagi pada pertemuan kebijakan bank sentral AS akhir bulan ini karena pembacaan yang beragam mengenai kondisi pasar tenaga kerja. Gubernur terbaru The Fed, Stephen Miran, menegaskan kembali dukungannya terhadap jalur pemotongan suku bunga yang lebih agresif untuk tahun 2025 daripada yang didukung oleh beberapa rekannya.
Bagikan Berita